Penyesalan Yang Terlambat (Kisah Nyata) Nyesel kalau ngak baca....


ilustrasi
Gambar ilustrasi
Cerita ini terinspirasi dari kisah nyata seorang anak laki-lakiYang sudah tak mempunyai ayah.Ia hidup bersama dengan ibunya yang hanya seorang penjual sayuran dipasar.Sebut saja Namanya "Dani"(bukan nama sebenarnya). meski dari keluarga yang kurang mampu. Dalam keseharianya Dani tak pernah mau ketinggalan dengan teman-temanya dalam segala hal. KeInginanyaselalu ingin lebih dari teman-teman sebayanya,temanya punya sepeda BMX,diapun minta dibelikan sepeda BMX Yang model terbaru.

 Ibunya yang berpenghasilan pas-pasan selalu berusaha mencukupi keinginan sang anak lelaki satu-satunnya. Ibunya berharap suatu saat sang anak akan menjadi anak yang bisa di banggakan.

 Bertambahnya usia dani bukannya semakin sadar dan menyayangi ibunya tetapi dia semakin memberatkan dan merepotkan ibunya. Ketika dia duduk di bangku SLTA,teman-temanya yang berasal dari keluarga mampu,mereka dibelikan sepeda motor. Danipun tak mau kalah,hatinya seakan buta dengan keadaan sang ibu. Dia minta sepeda motor Yamaha Vixion model terbaru yang harganya puluhan +juta.

 Tatkala permintaanya disampaikan pada ibunya,betapa kagetnya sang ibu,"Apa...kamu minta sepeda motor vixion?dari mana ibu punya uang sebanyak itu nak."

"Pokoknya aku ngak mau tahu, yang penting belikan....!"timpal si dani dengan ketusnya.

Karena sayangnya sang ibu pada anaknya,dia berusaha untuk mengumpulkan duit untuk memenuhi permintaan anak lelaki satu-satunya itu. Siang malam sang ibu membanting tulang   untuk mengumpulkan uang. Itu semua karena Si"Dani" akan mengamuk,marah dan mencaci maki ibunya jika permintaanya tidak dipenuhi.

Hati siapa yang tak tersakiti dengan perlakuan seperti itu,demikian juga dengan sang ibu,hari berganti hari hati sang ibu semakin tersakiti dengan sikap sang anak yang kasar dan mulai berani main tangan memukul ibunya.Tiap hari yang ditanyakan  Kapan dia bisa naik sepeda motor vixion yang dia idam-idamkan.

Kali ini ibunya begitu sangat berat memenuhi permintaan anaknya itu, apalah daya seorang penjual sayuran,berapa sih untungnya, paling-paling hanya cukup untuk makan sehari-hari saja.

Ibunya bukan tidak menasihati sang anak agar mengerti keadaanya,Dani memang sudah berhati batu,dan gelap mata,dan gengsi gak mau kalah dari teman-temanya.

Usia yang semakin tua denga fikiran yang kalut,di tambah kerja yang tak memeperhatikan kesehatanya,membuat kondisi tubuhnya semakin lemah dan sering sakit-sakitan.

Alloh maha tahu dan maha kuasa.Karena semangat hati sang ibu ingin menjadi ibu yang baik bagi anaknya,alloh memberikan kesembuhan.

Suatu hari "Dani"menagih motor pada ibunya lagi.Sebagai seorang ibu dia menjawab dengan baik dan menasehatinya supaya sabar dulu.
"sabar,sabar... terus yang ibu bilang,kalau ngak mau membelikan ngomong aja bu,jangan sabar-sabar terus, bosan....." jawabnya sambil dia mendorong ibunya hingga jatuh.

Dengan perkataan yang kasar, marah-marah dan kalap, dani bilang pada ibunya akan minggat dari rumah.

Dan kata-kata dani bukan main-main,akhirnya dia nekad ke jakarta,yang menurut dia mudah cari duit.Setelah dijakarta dia bingung karena tidak punya sanak famili,akhirnya dia tidur di emperan toko. bukannya ketemu orang yang baik tapi malah ketemu dengan preman-preman tukang copet. Diapun terjerumus kedalam lingkungan yang tidak baik, singkat kata hari itu adalah hari apesnya,dia mencopet keluarga pejabat , tapi akhirnya ketahuan dan dihakimi masa, digebuki hingga
 babak belur,bukan itu saja diapun dijebloskan kedalam penjara, dalam  penjara dia mendapatkan pelajaran hidup,narapidana yang lain sering meneror,dan membuat dia jadi bulan-bulanan.Disat-saat sepi dia mulai teringat nasehat-nasehat ibunya,tak terasa tetes air matanya mengalir.

Enam bulan meringkuk dihotel prodeo,hari pembebasanpun tiba,ya... dia bebas. walaupun bebas tapi jiwanya seakan berada dalam kebingungan yang tak ada arah dan tujuan.Dia menyinggahi dari masjid satu kemasjid yang lain. Mencari sosok yang bisa menjadi panutan hidupnya.Hingga suatu hari dia menjumpai sesosok ulama yang alim dan fakih dalam ilmu agama, dia mendekati dan menceritakan perjalanan lika liku hidupnya.

Sang ulama mendengarkan dengan seksama.Dengan perhatian dan kasih sayang sang ulama memulai memahami apa yang menjadi pokok permasalahnya, yaitu IBUNYA.

Akhirnya sang ulama tersebut menceritakan kisah dalam alquran dan hadist tentang pengorbanan seorang ibu. Mendengar kisah sang ulama Danipun tersentuh hatinya dan menyesali segala perbuatan dan dosa yang ia lakukan terhadap ibunya. Mulai saat itu dia bertekad ingin memperbaiki dirinya,agar menjadi anak yang sholeh dan berbakti.

Iapun mulai belajar ilmu agama dan giat bekerja. Untuk mengumpulkan uang untuk membuktikan bahwa dia bisa membeli sepeda motor seperti yang ia inginkan dari hasil keringatnya sendiri.

Setelah dia berhasil mendapatkan sepeda motor.tiap hari yang dia ingat adalah ibunya,dan iapun bertekad pulang menemui ibunya dan bersimpuh memohon maaf dan ampunanya.Suatu hari dalam perjalanan pulan,dia berpapasan dengan pamanya. Sang paman memeluknya dengan  kuat dan menangis tersedu-sedu,belum sempat ang paman menceritakan semuanya, Dani sudah tergesa-gesa ingin segera memeluk ibunya.

Namun ketika sampai di rumahnya dia tak menjumpai sang ibu yang sangat ia rindukan. Kesana kemari dia mencari ibunya,seluruh sudut rumah sudah ia  cari namun ibunya tak dia jumpai,hatinya mulai panik dan gelisah tak terkira.

Dalam kebingungan dan kegelisahanya,sang pamanpun datang dan menceritakan bahwa ibunya telah tiada tiga bulan yang lalu, hancur luluh hatinya tak terkira,belum sempat dia bersimpuh dan memohon ampun,ibunya sudah di pangil sang Illahi.

        ***********************************************************************
Pamanya menceritakan bahwa ibunya tiap hari berat memikirkan dirinya yang pergi dari rumah tak kunjung pulang sehingga sakitnya menjadi parah, "Yang dia pikirkan adalah kamu" kata pamanya. Yang diharapkan adalah kedatanganmu.



Jangan sia-siakan dan menyakiti ibumu ketika dia masih hidup.

 

                                          



0 Response to "Penyesalan Yang Terlambat (Kisah Nyata) Nyesel kalau ngak baca...."